Kreasik — Pertumbuhan premi asuransi umum yang hanya mencapai 4,8% pada tahun 2025, menurut AAUI, memunculkan pertanyaan serius tentang kesehatan sektor ini dan implikasinya bagi ekonomi secara keseluruhan. Angka ini jauh di bawah prediksi awal AAUI sebesar 8%, mengindikasikan adanya tekanan signifikan yang membatasi potensi pertumbuhan. Data ini, meski tampak kecil, menyimpan pesan penting tentang dinamika pasar dan tantangan yang dihadapi industri asuransi.
Logika di Balik Angka 4,8%

Pertumbuhan yang terhambat ini bukan tanpa sebab. Ketua Umum AAUI, Budi Hernawan, menyoroti beberapa faktor kunci. Pertama, satu perusahaan asuransi yang berada di bawah pengawasan khusus memberikan distorsi pada data. Kedua, penurunan pendapatan premi dipicu oleh perusahaan asuransi yang menghentikan jaminan asuransi kesehatan, yang sebelumnya menjadi penyumbang signifikan.
Ancaman Dominasi "Base Effect"
Sektor reasuransi menunjukkan kinerja yang mengkhawatirkan. Pertumbuhan properti minus 0,2%, kendaraan bermotor mengalami kontraksi, dan marine cargo terhambat oleh ekspor impor yang lesu. Kondisi ini mengindikasikan bahwa faktor eksternal, seperti perlambatan ekonomi global dan domestik, turut memengaruhi kinerja asuransi umum. Kenaikan premi asuransi kesehatan yang signifikan di akhir 2025, akibat inflasi medis yang tinggi, justru bisa menjadi bumerang karena membebani konsumen.
Regulasi Memperparah Masalah?
Peningkatan signifikan pada asuransi surety ship justru merupakan indikasi masalah yang lebih dalam. POJK Nomor 20 menyebabkan banyak kontraktor gagal menutup surety ship mereka, menunjukkan potensi risiko sistemik dalam sektor konstruksi. Lonjakan klaim di lini usaha asuransi aneka (miscellaneous) sebesar 16,9% menambah beban, menggerus profitabilitas perusahaan asuransi.
Verdict: Lebih dari Sekadar Angka
Pertumbuhan premi asuransi umum yang lambat bukan sekadar masalah internal industri. Ini adalah cerminan dari kondisi ekonomi yang lebih luas. Regulasi yang ketat, perlambatan ekonomi global, dan inflasi medis adalah faktor-faktor yang saling terkait dan menekan kinerja industri asuransi. Pemerintah dan regulator perlu mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengatasi tantangan ini, termasuk meninjau regulasi yang memberatkan dan mendorong diversifikasi produk asuransi. Jika tidak, sektor asuransi bisa menjadi beban, bukan pendorong pertumbuhan ekonomi.
Tinggalkan komentar