Merger AUM BUMN: Efisiensi Semu, Dominasi Nyata?

Riya Sharma

Februari 18, 2026

2
Min Read

Kreasik — Rencana penggabungan aset kelolaan (AUM) manajer investasi bank-bank BUMN kembali mencuat. Riduan, Direktur Utama Bank Mandiri, menyatakan kesiapannya mengikuti arahan Danantara sebagai pemegang saham pengendali. Namun, di balik retorika efisiensi dan peningkatan kapitalisasi pasar, tersembunyi potensi masalah serius.

Ambisi Kapitalisasi: Logika di Balik Angka 38%

 Merger AUM BUMN: Efisiensi Semu, Dominasi Nyata?
Gambar Istimewa : imgv2-2-f.scribdassets.com

Dony Oskaria, COO Danantara, meyakini merger akan meningkatkan efisiensi dan laba, berujung pada kapitalisasi pasar yang lebih tinggi. Logika ini sederhana: skala ekonomi menurunkan biaya operasional. Namun, efisiensi semata tak menjamin pertumbuhan berkelanjutan. Pertumbuhan organik dan inovasi produk seringkali terabaikan dalam euforia merger. Angka Rp132,77 triliun (USD8 miliar) AUM gabungan memang terdengar fantastis. Namun, seberapa besar porsi pasar yang akan dikuasai entitas baru ini? Apakah merger ini akan menciptakan raksasa yang justru menghambat persaingan sehat di industri pengelolaan investasi?

Ancaman Dominasi Base: Hilangnya Ruang Gerak Swasta?

Konsolidasi ini berpotensi menciptakan entitas dominan yang sulit disaingi oleh manajer investasi swasta. Akses ke nasabah BUMN dan jaringan distribusi yang luas memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan. Apakah ini akan mematikan inovasi dan memaksa pemain swasta untuk bermain di ceruk pasar yang semakin sempit? Pertanyaan ini penting untuk menjaga keberagaman dan dinamika industri keuangan Indonesia.

Danantara: Antara RoA 7% dan Risiko Moral

Target RoA (Return on Assets) Danantara sebesar 7% menjadi pendorong utama konsolidasi ini. Tekanan untuk mencapai target seringkali mengorbankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Merger ini berpotensi menciptakan "too big to fail" entity, meningkatkan risiko moral dan ketergantungan pada dana publik jika terjadi masalah di kemudian hari.

Verdict: Efisiensi Bukan Segalanya

Merger AUM BUMN, meski menjanjikan efisiensi dan peningkatan kapitalisasi, mengandung risiko besar. Dominasi pasar yang berlebihan dapat menghambat persaingan dan inovasi. Pemerintah perlu memastikan bahwa merger ini tidak hanya menguntungkan BUMN, tetapi juga menjaga keberagaman dan kesehatan industri pengelolaan investasi secara keseluruhan. Pengawasan ketat terhadap tata kelola dan risiko moral menjadi krusial. Fokus seharusnya tidak hanya pada angka RoA, tetapi juga pada penciptaan nilai jangka panjang bagi investor dan perekonomian Indonesia. Jangan sampai efisiensi menjadi justifikasi untuk menciptakan monopoli terselubung.

Tinggalkan komentar

Related Post