OJK Krisis Talenta? Pansel Belum Temukan "Jagoan"

Riya Sharma

Februari 19, 2026

2
Min Read

Kreasik — Proses seleksi Anggota Dewan Komisioner (ADK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memasuki babak krusial. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, selaku Ketua Pansel, secara terbuka menyatakan kekecewaannya. Minimnya kandidat dengan kompetensi mumpuni menjadi sorotan utama.

Pernyataan Purbaya: Alarm Bagi Reformasi OJK?

 OJK Krisis Talenta? Pansel Belum Temukan "Jagoan"
Gambar Istimewa : i.headtopics.com

Pernyataan Purbaya bukan sekadar keluhan. Ini adalah indikasi serius tentang kualitas sumber daya manusia yang berminat memimpin lembaga sepenting OJK. Pansel seolah kesulitan menemukan figur yang benar-benar "jago" di bidangnya. Apakah ini mencerminkan kurangnya daya tarik OJK bagi talenta terbaik bangsa?

Logika di Balik Angka 38% (dan Kekurangannya)

Syarat dan tahapan seleksi ADK OJK telah diumumkan. Namun, tingginya persyaratan belum tentu menjamin kualitas kandidat. Pengalaman, integritas, dan visi strategis jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kriteria formal. Fokus pada pemenuhan syarat administratif bisa jadi mengaburkan esensi kepemimpinan yang dibutuhkan.

Ancaman Dominasi "Base" dan Politik Titipan

Penegasan Purbaya bahwa tidak ada nama titipan dalam bursa calon patut diapresiasi. Namun, publik tetap skeptis. Kekhawatiran akan intervensi politik selalu membayangi proses seleksi lembaga-lembaga strategis. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk meredam spekulasi negatif.

Friderica Widyasari: Harapan dari Internal OJK?

Dorongan agar internal OJK maju sebagai calon ADK adalah langkah positif. Namun, perlu diingat bahwa perspektif internal saja tidak cukup. OJK membutuhkan pemimpin yang mampu melihat tantangan dari berbagai sudut pandang, termasuk dari pelaku industri dan konsumen.

Verdict: Lebih dari Sekadar "Jagoan", Butuh Reformasi Total

Pernyataan Purbaya adalah sinyalemen masalah yang lebih dalam. Krisis talenta di OJK mencerminkan perlunya reformasi total dalam sistem rekrutmen dan pengembangan SDM. OJK harus mampu menarik dan mempertahankan talenta terbaik dengan menawarkan lingkungan kerja yang kompetitif, transparan, dan berorientasi pada kinerja. Selain itu, independensi OJK dari intervensi politik harus benar-benar terjamin. Mencari "jagoan" saja tidak cukup. OJK butuh ekosistem yang mendukung lahirnya kepemimpinan yang visioner dan berintegritas. Jika tidak, kita hanya akan menyaksikan drama seleksi yang berulang tanpa menghasilkan perubahan signifikan.

Tinggalkan komentar

Related Post