Kreasik — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, menunjukkan dinamika menarik dalam lanskap keuangan Indonesia. Indeks literasi keuangan tercatat sebesar 66,46 persen, melampaui indeks inklusi keuangan yang berada di angka 80,51 persen.
Pencapaian ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan SNLIK 2024, di mana indeks literasi keuangan berada di angka 65,43 persen dan inklusi keuangan 75,02 persen. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menekankan bahwa peningkatan ini menunjukkan kemajuan pesat dalam pemahaman masyarakat terhadap keuangan.

Mahendra menjelaskan, angka literasi keuangan saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang masih berkisar antara 54-55 persen. Ia juga menambahkan, jika dibandingkan dengan negara-negara OECD dan negara maju lainnya, tingkat literasi keuangan Indonesia berada di kuartil menengah ke atas.
Lebih lanjut, Mahendra menekankan bahwa fokus utama bukan hanya pada peningkatan angka literasi, tetapi juga pada kualitas pemahaman dan pemanfaatan pengetahuan keuangan oleh masyarakat. Pemahaman mengenai manfaat produk keuangan, cara penggunaan yang tepat, akses yang memadai, dan efektivitas menjadi kunci utama.
OJK terus berupaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan melalui program sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan. Upaya ini juga mencakup pemberian pemahaman mengenai risiko lembaga keuangan ilegal serta langkah-langkah untuk menutup situs-situs ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat. Dengan memperkuat ketahanan, pemahaman, dan kemampuan masyarakat, OJK berharap dapat melindungi masyarakat dari praktik-praktik keuangan yang merugikan.
Tinggalkan komentar