Inflasi April 2026 Melandai, Namun Risiko Harga Energi Masih Tinggi

Author Image

Terbit

4 Mei 2026, 05:34 WIB

Inflasi April 2026 Melandai, Namun Risiko Harga Energi Masih Tinggi
Inflasi April 2026 Melandai, Namun Risiko Harga Energi Masih Tinggi

KreAsik – 04 Mei 2026 | Inflasi Indonesia pada bulan April 2026 diproyeksikan kembali menurun, namun dinamika harga energi dan nilai tukar masih menjadi faktor penghambat stabilitas harga. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan inflasi tahunan diperkirakan turun menjadi 2,40% dari 3,48% pada Maret, sementara inflasi bulanan hanya 0,11% dibandingkan 0,41% sebelumnya. Penurunan ini ia kaitkan dengan normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idulfitri, serta hilangnya efek basis rendah yang sempat menekan harga tahun lalu.

Bank Mandiri menambahkan proyeksi serupa, memperkirakan inflasi tahunan sebesar 2,5% dan inflasi bulanan 0,2%. Menurut Andry Asmoro, inflasi inti tetap berada di kisaran 0,2% bulanan, sedikit di atas 0,1% bulan Maret, sementara komponen harga yang diatur pemerintah diprediksi naik menjadi 0,8% karena kenaikan BBM nonsubsidi dan penyesuaian tarif energi. Deflasi pada beberapa komoditas pangan, seperti cabai rawit (-14,2%), cabai merah (-9,5%) dan telur (-3,7%), turut menurunkan tekanan harga makanan.

Namun, kenaikan harga energi tetap memberi beban pada biaya produksi dan transportasi. Harga minyak dunia yang dipengaruhi konflik Timur Tengah serta kenaikan avtur menambah tekanan pada tiket pesawat, yang masih mencatat inflasi 3,13% meski lebih rendah daripada 5,24% pada Maret. Sementara itu, pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor, khususnya bahan baku industri.

Di kancah internasional, data inflasi Amerika Serikat menunjukkan PCE tahunan 3,5% pada Maret, menimbulkan kekhawatiran di Federal Reserve. Goolsbee, Presiden Fed Chicago, menegaskan bahwa kebijakan suku bunga masih harus berhati-hati hingga tekanan harga kembali mendekati target 2%.

Situasi ini berimplikasi pada pasar logam mulia. Harga emas di pasar domestik tetap stabil; Antam turun tipis menjadi Rp2.908.000 per gram, sementara UBS dan Galeri24 berada di sekitar Rp2.802.000. Penurunan emas global lebih dari 1% dipicu oleh kenaikan harga minyak, yang sekaligus menguatkan ekspektasi inflasi global.

Meski inflasi melandai, prospek pertumbuhan ekonomi tetap kuat. Badan Pusat Statistik diperkirakan melaporkan pertumbuhan kuartal I 2026 di atas 5%, didorong konsumsi Ramadan‑Idulfitri, belanja pemerintah, dan investasi infrastruktur. Ekonom Josua Pardede menilai pertumbuhan tahunan bisa mencapai 5,44%, sementara rekan-rekannya dari LPEM UI dan Universitas Paramadina memproyeksikan kisaran 5,46–5,50%.

Berikut rangkuman proyeksi inflasi utama pada April 2026:

Indikator April 2026 Mar 2026
Inflasi Tahunan (yoy) 2,40 % (Permata) 3,48 %
Inflasi Tahunan (yoy) 2,5 % (Mandiri) 3,48 %
Inflasi Bulanan (mom) 0,11 % (Permata) 0,41 %
Inflasi Bulanan (mom) 0,2 % (Mandiri) 0,41 %
Inflasi Inti 2,31 % (Permata) / 0,2 % (Mandiri mom) 2,52 % / 0,1 %

Secara keseluruhan, penurunan inflasi pada April 2026 memberikan ruang napas bagi konsumen dan pelaku usaha, namun ketergantungan pada energi impor dan volatilitas nilai tukar menuntut kebijakan moneter dan fiskal yang tetap waspada. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menyeimbangkan dukungan pertumbuhan dengan upaya mengendalikan tekanan harga, khususnya pada komponen energi dan barang impor.

Dengan demikian, meski data menunjukkan tren penurunan, inflasi tetap menjadi tantangan utama yang harus dipantau secara intensif di sisa tahun 2026.

Related Post

Terbaru