Akulaku Finance: Ambisi 12% di Tengah Risiko NPF?

Author Image

Terbit

6 Maret 2026, 07:13 WIB

Kreasik — Akulaku Finance menargetkan pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 12% pada tahun 2026, mencapai Rp8,2 triliun. Target ini diumumkan di tengah upaya perusahaan memperkuat ekosistem digital dan memperluas jaringan merchant offline. Pertanyaannya, apakah target ambisius ini realistis di tengah lanskap ekonomi yang dinamis dan potensi peningkatan risiko kredit?

Ancaman Dominasi Base: Bukan Sekadar Angka

 Akulaku Finance: Ambisi 12% di Tengah Risiko NPF?
Gambar Istimewa : seeklogo.com

Target pertumbuhan 12% terdengar moderat. Namun, angka ini menyimpan tantangan besar. Pasar Buy Now Pay Later (BNPL) semakin kompetitif. Pemain besar seperti SeaMoney (Shopee PayLater) dan Kredivo terus menggerogoti pangsa pasar. Akulaku harus berjuang keras untuk mempertahankan relevansinya.

Logika di Balik Angka 1,2%: Optimisme atau Ilusi?

Akulaku Finance memproyeksikan NPF (Non-Performing Financing) di level 1,2% pada 2026. Angka ini sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Namun, perusahaan mengklaim masih dalam batas aman. Proyeksi ini patut dipertanyakan. Kondisi makroekonomi global masih penuh ketidakpastian. Inflasi dan suku bunga tinggi berpotensi menekan daya beli konsumen. Akibatnya, risiko gagal bayar bisa meningkat signifikan.

Ekosistem Digital: Pedang Bermata Dua

Ekosistem digital Akulaku, dengan 46,5 juta transaksi, adalah aset berharga. Data ini memungkinkan analisis perilaku konsumen yang mendalam. Namun, ekosistem ini juga rentan terhadap risiko keamanan siber. Kebocoran data bisa merusak kepercayaan konsumen. Selain itu, ketergantungan pada platform e-commerce mitra juga bisa menjadi bumerang. Jika mitra mengalami masalah, bisnis Akulaku akan terpengaruh.

Ekspansi Offline: Strategi Diversifikasi atau Judi?

Ekspansi ke pasar offline, dengan menggandeng 10.000 merchant, adalah langkah menarik. Ini adalah upaya diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan pada kanal digital. Namun, penetrasi pasar offline membutuhkan investasi besar. Biaya operasional dan logistik bisa membengkak. Selain itu, persaingan di pasar offline juga sangat ketat. Akulaku harus bersaing dengan pemain yang sudah mapan.

Verdict:

Target pertumbuhan 12% Akulaku Finance adalah ambisi yang wajar. Namun, realisasinya sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola risiko. Perusahaan harus berhati-hati dalam mengelola NPF, memperkuat keamanan siber, dan membangun kemitraan yang solid. Ekspansi offline adalah langkah yang berpotensi menguntungkan, tetapi membutuhkan eksekusi yang cermat. Satu hal yang luput dari perhatian banyak orang adalah regulasi. Pemerintah semakin ketat mengawasi industri fintech. Regulasi baru bisa membatasi ruang gerak Akulaku dan memengaruhi pertumbuhan bisnisnya. Akulaku perlu proaktif beradaptasi dengan perubahan regulasi untuk memastikan keberlanjutan bisnisnya.

Related Post

Terbaru