KreAsik – 28 Juni 2026 | Hyperliquid, sebuah platform yang secara terbuka menyatakan diri sebagai permissionless, baru-baru ini mendapat sorotan tajam dari Kyle Samani, seorang investor dan pengusaha terkemuka. Kritik ini muncul setelah Otoritas Moneter Singapura (MAS) memasukkan Hyperliquid ke dalam Daftar Peringatan Investor (Investor Alert List) pada 26 Juni.
MAS menempatkan Hyperliquid dalam daftar tersebut karena khawatir bahwa masyarakat Singapura mungkin salah menganggap platform ini sebagai entitas yang berlisensi atau disetujui oleh MAS. Peringatan ini tidak memiliki dampak hukum atau pelarangan, melainkan sebagai sinyal bahwa pengguna lokal mungkin tidak akan dilindungi oleh MAS jika terjadi sesuatu yang salah pada platform.
Hyperliquid membela diri dengan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengklaim memiliki lisensi atau persetujuan dari MAS. Mereka menegaskan bahwa pengguna memiliki kendali penuh atas aset mereka dan semua transaksi diselesaikan secara transparan di blockchain. Hyperliquid juga menyatakan bahwa tidak ada perubahan pada jaringan mereka.
Baca Juga:
Kyle Samani langsung menyerang klaim permissionless Hyperliquid. Menurutnya, permissionless yang sebenarnya memerlukan setidaknya dua kondisi: protokol harus open source, dan validator harus beroperasi secara global, bukan terkonsentrasi di satu lokasi. Samani juga mengangkat kekhawatiran tentang pemerintahan, menyatakan bahwa Yayasan Hyperliquid dapat mengurung validator dan menghapusnya dari set validator aktif tanpa alasan yang jelas.
Samani juga menyoroti bahwa Yayasan Hyperliquid dapat mendorong upgrade perangkat lunak yang dipaksakan pada validator, sehingga mencabut kontrol mereka atas node. Kritik ini diperkuat oleh fakta bahwa jaringan Hyperliquid hanya memiliki 24 validator aktif dan berencana untuk memperluas menjadi 27. Selain itu, repositori node mereka mendistribusikan binary yang ditandatangani, bukan kode sumber lengkap.
Kritik Samani terhadap Hyperliquid ini juga mendapat perhatian karena latar belakangnya. Samani sebelumnya terlibat dengan Multicoin Capital, yang memiliki exposure signifikan terhadap protokol yang bersaing. Beberapa pengamat mempertanyakan motifnya, tetapi kritiknya terhadap Hyperliquid secara substansial menyoroti kekhawatiran tentang klaim permissionless platform ini.
Dalam beberapa bulan mendatang, bagaimana Hyperliquid merespons tekanan dari regulator dan kritikus industri mungkin akan membentuk posisinya di mata pengguna institusional. Perdebatan ini menyoroti kompleksitas dalam menilai klaim permissionless dan pentingnya transparansi serta desentralisasi dalam ekosistem kripto.
Kesimpulan, kritik terhadap Hyperliquid menyoroti pentingnya memahami konsep permissionless dan desentralisasi dalam dunia kripto. Dengan meningkatnya perhatian regulator terhadap platform kripto, transparansi dan komitmen terhadap prinsip desentralisasi akan menjadi kunci bagi keberhasilan jangka panjang platform seperti Hyperliquid.




