BitMine Terpukul Harga Ether Anjlok Rugi US$6 Miliar

Ines Feree

Februari 1, 2026

3
Min Read

Kreasik — Strategi "crypto treasury" kembali menghadapi tantangan signifikan setelah gelombang likuidasi terbaru memicu koreksi tajam pada harga Ethereum. BitMine Immersion Technologies, sebuah entitas treasury kripto yang terafiliasi dengan investor kawakan Tom Lee, dilaporkan menanggung potensi kerugian yang belum terealisasi (unrealized loss) yang melonjak pada kepemilikan Ethereum-nya.

BitMine dikabarkan telah menambah sekitar 40.302 ETH pada pekan lalu, sehingga total portofolio kepemilikannya kini melampaui 4,24 juta ETH. Namun, di tengah pelemahan harga pasar, posisi tersebut kini mencatat kerugian belum terealisasi lebih dari US$6 miliar, berdasarkan data dari Dropstab yang memantau valuasi aset digital. Valuasi kepemilikan Ethereum BitMine saat ini ditaksir sekitar US$9,6 miliar, tergerus dari puncaknya yang mencapai US$13,9 miliar pada Oktober, seiring tekanan jual yang melanda pasar kripto secara luas.

BitMine Terpukul Harga Ether Anjlok Rugi US$6 Miliar
Gambar Istimewa : cryptoharian.com

Tekanan pada portofolio investasi BitMine semakin intensif ketika harga Ethereum merosot mendekati US$2.300 pada Sabtu lalu. Komentator pasar, The Kobeissi Letter, menggarisbawahi bahwa penurunan ini mengindikasikan kondisi likuiditas pasar yang rentan. Dalam situasi likuiditas yang tersendat, eksposur leverage yang tinggi dapat menciptakan "air pocket" atau penurunan harga yang cepat akibat minimnya tawaran beli (bid), yang kemudian diperparah oleh posisi pasar yang seragam dan cenderung ikut-ikutan.

Perkembangan ini menguatkan indikasi bahwa pasar kripto tengah memasuki periode penyesuaian yang lebih intensif dibandingkan optimisme yang sempat menyelimuti penghujung tahun sebelumnya. Tom Lee, yang sebelumnya dikenal dengan pandangan bullish-nya, kini memperingatkan bahwa tahun 2026 diproyeksikan akan diawali dengan fase yang penuh tantangan sebelum peluang pemulihan dapat terwujud di kemudian hari.

Dalam wawancara terbarunya, Lee menyebut pasar masih merasakan dampak dari proses deleveraging, meskipun ia menilai struktur fundamental jangka panjang belum runtuh. Ia menunjuk gejolak signifikan pada 10 Oktober sebagai titik balik yang mengubah preferensi risiko di pasar aset digital. Menurutnya, guncangan saat itu telah mengikis minat terhadap aset berisiko dan membuat momentum kenaikan harga sulit dipertahankan tanpa adanya peningkatan likuiditas pasar dan permintaan yang lebih substansial.

Pandangan tersebut senada dengan analisis terkini dari market maker Wintermute. Mereka menilai bahwa pemulihan yang lebih stabil dan jangka panjang pada tahun 2026 akan bergantung pada beberapa pilar utama: dorongan baru pada Bitcoin dan Ethereum, keterlibatan ETF yang lebih masif, peningkatan alokasi treasury untuk aset digital, serta kembalinya aliran dana dari investor ritel. Tanpa efek dominan dari investor institusional yang lebih merata, kenaikan harga berpotensi cepat mereda. Sementara itu, minat investor ritel masih cenderung lesu karena banyak yang lebih tertarik pada sektor-sektor dengan pertumbuhan pesat seperti kecerdasan buatan dan komputasi kuantum.

Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kreasik.id ditujukan sebagai sarana informatif. Seluruh artikel yang telah tayang di Kreasik.id bukan nasihat investasi atau saran trading. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata uang kripto, senantiasa lakukan riset karena kripto adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kreasik.id tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan Anda.

Tinggalkan komentar

Related Post