Kreasik — Pasar aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC), memasuki pekan ini dengan kewaspadaan tinggi. Pergerakan harga Bitcoin cenderung stabil pada 18 Januari, namun volume transaksi mengalami penurunan dibandingkan minggu sebelumnya. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi serangkaian agenda ekonomi makro global yang berpotensi memicu gejolak volatilitas yang signifikan.
Fokus utama tertuju pada operasi likuiditas yang dilakukan oleh The Federal Reserve (The Fed) pada hari Senin. Bank sentral AS tersebut menyuntikkan dana sekitar US$15 miliar melalui operasi pembelian T-bill. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan kas jangka pendek di pasar pendanaan, yang berpotensi melonggarkan kondisi likuiditas secara keseluruhan. Kondisi likuiditas yang lebih longgar seringkali mendorong para pelaku pasar untuk mengambil risiko lebih besar, termasuk berinvestasi pada aset kripto seperti Bitcoin.

Selanjutnya, pada hari Selasa, pasar akan mencermati laporan ekonomi dari Federal Open Market Committee (FOMC). Laporan ini menjadi acuan penting bagi para pelaku pasar untuk memahami arah kebijakan moneter The Fed, termasuk pandangan bank sentral terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan proyeksi suku bunga. Perubahan kecil dalam nada laporan FOMC dapat memicu reposisi cepat oleh para investor makro yang mengaitkan eksposur kripto dengan real yield dan ekspektasi kebijakan, terutama di tengah sensitivitas pasar terhadap isu suku bunga.
Pada hari yang sama, Mahkamah Agung Amerika Serikat juga akan mengeluarkan putusan terkait tarif era Trump. Keputusan ini berpotensi mengubah ekspektasi perdagangan, arah arus mata uang, dan selera risiko investor. Jika putusan tersebut mengarah pada perubahan tarif, dampaknya dapat meluas ke nilai tukar dolar AS, imbal hasil obligasi, dan penilaian ulang terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Ketegangan pasar diperkirakan akan berlanjut pada hari Rabu, dengan pidato Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos. Meskipun pidato ini diharapkan mencakup pesan kebijakan dan ekonomi yang lebih luas, pasar kripto cenderung memperlakukannya sebagai potensi risiko berita utama. Para trader dan investor akan mencari petunjuk mengenai regulasi, perdagangan, dan arus modal. Dalam kondisi likuiditas yang menipis, satu kalimat penting dari pidato Trump dapat memicu volatilitas yang tidak proporsional.
Pada hari Kamis, perhatian pasar akan beralih ke data neraca The Fed. Para pelaku pasar akan menganalisis data tersebut untuk mencari tanda-tanda berlanjutnya pengetatan moneter atau perlambatan runoff, yang dapat diinterpretasikan sebagai pelonggaran moneter secara diam-diam. Perubahan tren neraca The Fed sering dianggap sebagai indikator latar bagi pasar kripto. Peningkatan likuiditas cenderung memberikan ruang bagi reli harga, sementara pengetatan moneter yang konsisten dapat membuat kenaikan harga lebih sulit dipertahankan.
Rangkaian agenda ekonomi global pekan ini akan ditutup pada hari Jumat dengan pengumuman keputusan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ). Setelah kenaikan suku bunga sebelumnya, para investor akan mengevaluasi apakah BoJ akan melanjutkan pengetatan moneter atau memilih untuk mempertahankan suku bunga saat ini. Kenaikan suku bunga lebih lanjut berpotensi mendorong imbal hasil obligasi naik dan memperkuat nilai tukar yen, yang dapat menekan strategi carry trade global. Jika dana yang meminjam murah untuk membeli aset volatil mulai mengurangi risiko, tekanan dapat dirasakan pada Bitcoin dan aset kripto besar lainnya.
Disclaimer: Artikel ini disediakan hanya untuk tujuan informasi. Artikel ini bukan merupakan nasihat investasi atau saran trading. Sebelum berinvestasi dalam mata uang kripto, lakukan riset sendiri karena kripto adalah aset yang volatil dan berisiko tinggi. Kreasik.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
Tinggalkan komentar