Kreasik — Pasar kripto tengah dilanda kebingungan seiring penurunan Bitcoin dari puncaknya dan lesunya kinerja altcoin. Analis dengan nama samaran VirtualBacon memberikan pandangan berbeda, menyatakan bahwa ini bukanlah awal dari crypto winter, melainkan mid-cycle breakdown, fase pendinginan alami sebelum siklus besar berikutnya.
VirtualBacon menjelaskan bahwa penurunan Bitcoin di bawah 50-week SMA tidak serta merta menandakan bear market multi-tahun. Siklus sebelumnya menunjukkan bear market besar terjadi setelah puncak euforia yang diakhiri dengan ledakan parabola. Tahun ini, menurutnya, tidak ada tanda-tanda mania seperti FOMO massal atau lonjakan harga yang ekstrem.

"Tidak ada puncak parabolik, tidak ada crash 80 persen. Ini hanya jeda," tegas VirtualBacon. Ia berpendapat Bitcoin harus runtuh di bawah US$ 30.000 untuk mencapai penurunan khas bear market 75-85 persen, skenario yang dianggapnya tidak masuk akal.
Dalam analisanya, VirtualBacon menyebut tiga level penting pergerakan Bitcoin, dengan potensi pasar bergerak perlahan sebelum menetap di zona kuat US$ 70.000-an. Ia mengaku tidak menjual Bitcoin saat harga turun, malah melihatnya sebagai kesempatan. Ia terus membeli saat penurunan menuju US$ 70.000, menekankan bahwa fase ini selalu tampak menakutkan, namun merupakan bagian dari perjalanan menuju siklus berikutnya.
Secara jangka pendek, Bitcoin berpotensi memantul kembali ke area US$ 98.000 – US$ 102.000, didukung faktor makro. Namun, zona US$ 100.000 bukanlah tempat Bitcoin akan breakout, melainkan resistensi yang kuat.
Analisis VirtualBacon menjadi tajam saat membahas altcoin. Ia menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, altcoin tidak mengikuti Bitcoin saat mencapai ATH baru. Grafik ETH/BTC, SOL/BTC, XRP/BTC, hingga Total3 terus menurun. Ini bukan anomali, melainkan perubahan struktural besar akibat pergeseran likuiditas global yang kini mengalir ke Bitcoin, aset-aset Real World Asset (RWA), dan saham-saham blue chip. Altcoin kini diperlakukan seperti saham small cap yang menderita saat bank sentral mengetatkan likuiditas.
VirtualBacon mengklaim bahwa pola altseason empat tahunan yang diyakini investor lama telah berakhir. Ke depan, altseason hanya mungkin terjadi jika The Fed melakukan quantitative easing (QE) dan muncul narasi baru yang kuat. Tanpa dua faktor ini, altseason hanya akan terjadi singkat, dangkal, dan selektif.
Menjelang tahun 2026, VirtualBacon mempromosikan portofolionya dengan fokus pada Bitcoin, aset RWA, dan saham-saham blue chip. Altcoin kini bukan investasi, melainkan instrumen taktis yang bisa jatuh 50 persen dalam sebulan, sehingga harus diperlakukan sebagai posisi high risk short-term, bukan pegangan jangka panjang. Ia hanya melakukan trading pada Ethereum, Solana, dan token AI tertentu, lalu mengembalikan keuntungan ke Bitcoin.
Tinggalkan komentar