Phishing Ancam Fintech, Inklusi Keuangan Belum Merata

Riya Sharma

November 18, 2025

2
Min Read

Kreasik — Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) baru saja merilis hasil survei tahunan (AMS) 2024-2025 yang menyoroti tantangan keamanan siber dan penipuan yang masih menghantui industri fintech lending. Survei ini juga mengungkap potret inklusi keuangan digital yang belum merata di Indonesia.

Ancaman phishing masih menjadi momok utama bagi perusahaan fintech, meskipun mengalami penurunan dari 33,59% pada 2024 menjadi 27,12% pada 2025. Namun, tantangan terbesar justru datang dari luar perusahaan, di mana 82,98% responden melaporkan fraud eksternal sebagai ancaman dominan, baik dari konsumen, sindikat kejahatan siber, maupun pihak ketiga.

 Phishing Ancam Fintech, Inklusi Keuangan Belum Merata
Gambar Istimewa : blog.modalku.co.id

Survei juga menunjukkan konsentrasi pengguna fintech masih terpusat di wilayah Jabodetabek (73,77%), mengindikasikan penetrasi layanan yang terbatas di daerah non-metropolitan. Mayoritas pengguna berasal dari kelompok berpenghasilan menengah (Rp 5-10 juta), sementara masyarakat berpenghasilan rendah (Rp 0-5 juta) masih kesulitan mengakses layanan keuangan.

Edukasi dan literasi keuangan digital mengalami peningkatan, namun belum sejalan dengan pesatnya inovasi fintech. Meskipun 43,44% perusahaan menjadikan literasi sebagai program utama perlindungan konsumen, 59,02% pelaku industri masih menilai rendahnya literasi sebagai tantangan utama inklusi keuangan.

Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, menekankan bahwa temuan AMS menjadi acuan penting bagi perkembangan industri fintech. "Tantangan ini adalah peta jalan untuk memperkuat ekosistem. Kita memasuki fase maturing, fokusnya adalah memastikan inovasi tumbuh dengan tata kelola yang kuat, perlindungan konsumen, dan dampak nyata bagi sektor riil," ujarnya, seperti dikutip Kreasik.id, Senin (17/11/2025).

Di sisi lain, survei mencerminkan optimisme pelaku industri yang kini fokus pada profitabilitas, efisiensi, dan tata kelola berkelanjutan. Hal ini tercermin dari 43,4% perusahaan fintech yang tidak lagi aktif mencari pendanaan eksternal pada 2025, meningkat dari 38,9% pada 2024.

Model bisnis fintech juga bertransformasi, dengan proporsi pengguna utama di segmen business-to-business (B2B) melonjak dari 27,48% pada 2024 menjadi 50% pada 2025. Ekspansi global semakin menguat, dengan perusahaan yang melayani pengguna internasional meningkat dari 56% pada 2024 menjadi 64% pada 2025.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menyatakan bahwa AMS memberikan gambaran jelas mengenai peluang dan tantangan industri fintech. "Kita melihat progres besar dalam tata kelola, keamanan, dan teknologi. Namun, masih ada kesenjangan yang perlu dijembatani. Fokus utama AFTECH adalah memperkuat governance untuk meningkatkan trust dan confidence di industri digital, khususnya fintech. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci," pungkasnya.

Tinggalkan komentar

Related Post