KreAsik – 15 Juni 2026 | Baru-baru ini, Google menerbitkan sebuah makalah tentang kemajuan dalam teknologi quantum yang dapat membahayakan keamanan Ethereum. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa jumlah qubit yang dibutuhkan untuk membobol Ethereum dapat dipotong hingga 20 kali lipat, dari puluhan ribu menjadi sekitar 1.200. Hal ini membuat ancaman quantum terhadap Ethereum menjadi lebih nyata dan tidak lagi sekedar teori.
Ethereum menggunakan algoritma tanda tangan digital ECDSA (elliptic curve digital signature algorithm) untuk memverifikasi setiap transaksi. Namun, algoritma ini dapat dibobol oleh komputer quantum yang cukup kuat. Oleh karena itu, Ethereum harus segera mengambil tindakan untuk meningkatkan keamanannya.
Yayasan Ethereum telah membentuk tim keamanan post-quantum yang dipimpin oleh Thomas Coratger dan melacak pekerjaannya secara publik di pq.ethereum.org. Justin Drake, salah satu peneliti Ethereum yang paling terkemuka, telah mengidentifikasi risiko post-quantum sebagai prioritas strategis utama.
Baca Juga:
Salah satu solusi yang sedang dikembangkan adalah EIP-8141, yang memperkenalkan abstraksi akun asli dan memungkinkan akun untuk memilih skema tanda tangan mereka sendiri. Rencana ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan Ethereum dan membuatnya lebih tahan terhadap serangan quantum.
Untuk pengguna yang ingin bertindak sekarang, proyek Kohaku dari Yayasan Ethereum memungkinkan siapa saja untuk mengirimkan akun pintar yang tahan quantum menggunakan standar abstraksi akun ERC-4337, tanpa memerlukan hard fork, dengan biaya sekitar $0,07 pada testnet Layer 1.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ancaman quantum terhadap Ethereum menjadi lebih nyata dan tidak lagi sekedar teori. Oleh karena itu, Ethereum harus segera mengambil tindakan untuk meningkatkan keamanannya dan membuatnya lebih tahan terhadap serangan quantum. Dengan demikian, pengguna Ethereum dapat merasa lebih aman dan nyaman dalam menggunakan platform ini.




