Saham BBRI Turun, Dividen Besar, Likuiditas Tetap Kuat

Author Image

Terbit

24 April 2026, 11:20 WIB

Saham BBRI Turun, Dividen Besar, Likuiditas Tetap Kuat
Saham BBRI Turun, Dividen Besar, Likuiditas Tetap Kuat

KreAsik – Pada sesi penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026, indeks IHSG tercatat merah dengan penurunan 2,16% menjadi 7.378 poin. Di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan sentimen pasar yang lemah, saham Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mengalami koreksi sebesar 2,47% dan ditutup pada harga Rp3.160 per lembar. Penurunan ini sejalan dengan penurunan harga saham bank-bank besar lainnya, seperti BBCA, BMRI, dan BRIS, yang masing-masing turun antara 0,39% hingga 2,53%.

Meski harga saham BBRI tertekan, bank tersebut tetap menegaskan komitmen terhadap likuiditas dan permodalan. Pada akhir kuartal terakhir, BBRI berhasil menyalurkan dividen total sebesar Rp52,1 triliun kepada pemegang saham, menjadikannya salah satu penerbit dividen terbesar di sektor perbankan Indonesia. Dividen tersebut mencerminkan profitabilitas yang tetap kuat meski berada dalam kondisi pasar yang menantang.

Analisis teknikal MNC Sekuritas menilai bahwa IHSG berada di akhir gelombang koreksi (wave [iv] atau wave [a] pada label merah) dan berpotensi menguji support di zona 7.245-7.354 poin. Dalam skenario tersebut, saham-saham berisiko, termasuk BBRI, diperkirakan akan berfluktuasi dalam rentang support 7.351-7.238 dan resistance 7.578-7.700. MNC Sekuritas menyarankan strategi “buy on weakness” untuk saham-saham dengan fundamental kuat, dan BBRI termasuk dalam kategori yang pantas dipertimbangkan karena fundamental yang solid dan kebijakan dividen yang menarik.

Berikut ringkasan data utama saham BBRI pada penutupan Jumat:

Indikator Nilai
Harga penutupan Rp3.160
Perubahan harga -2,47%
Dividen tahunan Rp52,1 triliun

Selain dividen, BBRI menonjolkan rasio kecukupan modal (CAR) yang berada di atas 20%, menandakan kekuatan permodalan yang cukup untuk menahan guncangan eksternal. Likuiditas bank tercatat dalam kisaran LDR (Loan to Deposit Ratio) sekitar 78%, menandakan keseimbangan antara penyaluran kredit dan dana yang tersedia.

Para analis menyoroti bahwa prospek kredit BBRI tetap positif, terutama dalam segmen pembiayaan mikro, UMKM, dan agribisnis. Penetrasi digital bank ini juga terus meningkat, dengan pertumbuhan transaksi mobile banking sebesar 18% YoY pada kuartal terakhir. Faktor-faktor ini memberi dukungan bagi pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NIB) yang diproyeksikan naik 7-9% pada tahun 2026.

Dari sisi makroekonomi, Bank Indonesia memperkirakan kebijakan moneter tetap akomodatif, dengan suku bunga acuan stabil pada 5,75% hingga pertengahan tahun. Kebijakan ini diharapkan dapat menstabilkan nilai tukar rupiah dan memberi ruang bagi perbankan untuk menyalurkan kredit tanpa tekanan biaya dana yang signifikan.

Investor ritel dan institusi yang mencari peluang pada saham dengan valuasi relatif menarik dapat mempertimbangkan BBRI sebagai pilihan. Dengan price-to-earnings (PE) sekitar 12,5 kali, BBRI berada di bawah rata-rata sektor perbankan yang berada di kisaran 14-16 kali. Kombinasi antara valuasi yang kompetitif, dividen tinggi, dan fundamental yang kuat menjadi faktor pendukung bagi strategi beli pada saat koreksi.

Secara keseluruhan, meskipun pasar berada dalam fase koreksi, saham BBRI menunjukkan tanda-tanda resilien. Kebijakan dividen yang menguntungkan, likuiditas yang terjaga, serta prospek kredit yang terus berkembang menjadi landasan bagi investor yang mengadopsi pendekatan jangka menengah hingga panjang. Dengan memperhatikan level support teknikal dan fundamental yang solid, saham BBRI dapat menjadi pilihan yang menarik di tengah volatilitas pasar.

Related Post

Terbaru