KreAsik – 21 Agustus 2026 | Bitcoin kembali memunculkan pola teknikal yang mengundang kewaspadaan di kalangan pelaku pasar. Pada grafik satu jam (1H) tercatat terbentuknya Death Cross Bitcoin, menandakan potensi penurunan harga yang signifikan. Pola ini merupakan yang keempat muncul dalam dua bulan terakhir dan pertama kali sejak 19 Juni.
Death Cross merupakan kondisi di mana rata‑rata bergerak jangka pendek (biasanya SMA 50) menembus ke bawah rata‑rata bergerak jangka panjang (SMA 200). Secara historis, pola ini sering kali diinterpretasikan sebagai sinyal melemahnya momentum beli dan beralihnya kendali ke sisi penjual.
Analisis yang dipublikasikan pada 14 Juli oleh TradingShot melalui platform TradingView menilai bahwa Death Cross Bitcoin dapat membuka ruang koreksi harga menuju level sekitar US$60.200. Jika tekanan jual semakin kuat, skenario terburuk memperkirakan harga dapat menembus area US$57.250.
Baca Juga:
Pada saat analisis dirilis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$62.600. Dengan demikian, sinyal ini muncul ketika harga masih berada di atas level target koreksi moderat, memberikan ruang pergerakan ke bawah yang cukup lebar.
Sejak Mei, setiap kali pola Death Cross Bitcoin terbentuk pada grafik satu jam, pasar biasanya mengalami koreksi. Namun, tidak semua koreksi terjadi secara instan. Contohnya, pada 27 Mei harga langsung turun setelah sinyal muncul, sementara pada 13 Mei dan 19 Juni terjadi reli singkat sebelum penurunan kembali.
TradingShot juga menyoroti terbentuknya pola lower highs – puncak harga yang semakin rendah – sebelum sinyal Death Cross. Pola ini menandakan bahwa tekanan beli semakin lemah, sementara penjual mulai menguasai pergerakan jangka pendek.
Berikut adalah perkiraan target koreksi berdasarkan data historis dua bulan terakhir:
- Target moderat: US$60.200 (penurunan sekitar 6,8%–11,4% dari level saat ini).
- Target agresif: US$57.250 (jika tekanan jual menguat secara signifikan).
Meski demikian, analisis tidak menutup kemungkinan terjadinya pantulan singkat sebelum tren penurunan berlanjut. Pola serupa pernah terlihat setelah sinyal pada Mei dan Juni, di mana harga sempat naik kembali sebelum kembali menurun.
Selain faktor teknikal, sentimen makroekonomi juga memberikan tekanan pada Bitcoin. Data inflasi Amerika Serikat (CPI) Juni menunjukkan penurunan tahunan menjadi 3,5% dan inflasi inti turun menjadi 2,6%, yang seharusnya menjadi katalis positif bagi aset berisiko. Namun, pasar masih dipengaruhi oleh perpindahan aset kripto milik pemerintah AS ke platform Coinbase Prime, yang mencakup sekitar 3.940 BTC senilai US$244 juta serta lebih dari 30.000 ETH. Meskipun belum pasti akan dijual, potensi pasokan tambahan menambah kecemasan investor.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14‑hari berada di level 45,69, masih di bawah ambang 50 yang biasanya menandakan dominasi pembeli. Nilai RSI ini menggarisbawahi bahwa momentum pasar masih netral, namun belum cukup kuat untuk mengubah arah tren.
Secara visual, Bitcoin masih berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 50‑hari di US$64.641 dan SMA 200‑hari di US$73.785. Posisi di bawah kedua level ini memperkuat pandangan bearish pada kerangka menengah hingga panjang.
Berita lain yang memperkuat sentimen negatif adalah kegagalan Bitcoin menembus level resistensi penting di sekitar US$64.400. Sejak awal Juli, BTC terus mencetak puncak yang lebih rendah, mengindikasikan bahwa pembeli belum memiliki kekuatan cukup untuk menembus zona tersebut.
Hingga penulisan artikel ini, harga Bitcoin berada di kisaran US$63.854, naik sekitar 2,6% dalam 24 jam terakhir dan menguat 1,3% selama seminggu terakhir. Meskipun ada sedikit pemulihan, gambaran teknikal secara keseluruhan masih menunjukkan tekanan jual yang dominan.
Kesimpulannya, kombinasi Death Cross Bitcoin, pola lower highs, posisi di bawah SMA 50‑hari dan SMA 200‑hari, serta faktor makro yang belum sepenuhnya mendukung, menandakan bahwa pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa hari ke depan berpotensi volatil dengan tekanan ke arah penurunan. Investor disarankan untuk memantau level support kunci di US$60.200 dan US$57.250 serta mengawasi perkembangan sentimen makro yang dapat memicu pergerakan tajam.




