Kreasik — Pasar Bitcoin, yang selama ini dikenal dengan siklus empat tahunan berbasis halving, kini menunjukkan perubahan signifikan. Analis memprediksi puncak harga Bitcoin selanjutnya akan terjadi pada tahun 2026, bukan 2024 atau 2025 seperti perkiraan sebelumnya.
Pergeseran ini dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, terutama utang korporasi Amerika yang jatuh tempo dan suku bunga tinggi. Raoul Pal dari Altcoin Daily menyoroti bahwa mayoritas obligasi korporasi memiliki jangka waktu 4 hingga 5,4 tahun. Tekanan ekonomi akibat suku bunga tinggi menyebar secara perlahan, memundurkan puncak dan dasar siklus bisnis, termasuk pasar kripto.

Kenaikan suku bunga melemahkan daya beli konsumen, tetapi mendorong institusi melalui peningkatan imbal hasil obligasi dan fee trading. Ketidakseimbangan ini menjelaskan mengapa harga aset bisa naik meski ekonomi riil melemah. Di pasar kripto, arus modal institusi dan kebijakan suku bunga lebih memengaruhi harga Bitcoin daripada tekanan dari investor ritel.
Selama likuiditas tetap mengalir dari institusi, pasar kripto masih berpotensi naik, meski dengan ritme lebih lambat. Model siklus baru menunjukkan puncak harga Bitcoin selanjutnya bisa terjadi pada 2026, seiring selesainya tekanan dari pasar obligasi dan pulihnya siklus ekonomi global. Indikasi ke arah ini sudah terlihat, termasuk stabilitas harga Bitcoin di tengah halving, dominasi Bitcoin yang meningkat, dan minat institusi yang terus bertambah.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi atau trading. Investasi dalam mata uang kripto memiliki risiko tinggi. Lakukan riset mendalam sebelum berinvestasi. Kreasik.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.
Tinggalkan komentar