Kreasik — Bank Indonesia (BI) kembali menggelontorkan ratusan triliun rupiah untuk memenuhi kebutuhan uang tunai menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 menyiapkan Rp185,6 triliun, naik dari tahun sebelumnya. Pertanyaannya, apakah ketersediaan uang tunai yang melimpah ini akan memicu lonjakan inflasi?
Dana Lebaran: Stimulus atau Bom Waktu?

Kenaikan alokasi uang tunai ini mencerminkan optimisme BI terhadap pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat. Namun, injeksi likuiditas besar-besaran tanpa kontrol yang ketat berpotensi menjadi bumerang. Peningkatan daya beli yang tidak diimbangi dengan ketersediaan barang dan jasa yang memadai dapat mendorong harga-harga naik.
Baca Juga:
Logika di Balik Angka Rp185,6 Triliun
BI mengklaim peningkatan ini sejalan dengan aktivitas ekonomi yang menguat. Mobilitas masyarakat yang meningkat pasca pandemi memang mendorong konsumsi. Namun, perlu diingat bahwa inflasi inti masih menjadi perhatian utama. Gelontoran uang tunai ini bisa memperburuk tekanan inflasi jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Aplikasi PINTAR: Solusi Efisien atau Sekadar Fasilitas?
BI mengandalkan aplikasi PINTAR untuk mempermudah penukaran uang. Ini adalah langkah positif untuk meningkatkan efisiensi dan pemerataan layanan. Namun, efektivitas PINTAR bergantung pada literasi digital masyarakat dan infrastruktur yang memadai di seluruh wilayah Indonesia. Tanpa itu, aplikasi ini hanya akan dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat.
Ancaman Dominasi Uang Tunai
Fokus pada uang tunai juga menimbulkan pertanyaan tentang upaya digitalisasi sistem pembayaran. Di era fintech, ketergantungan pada uang tunai bisa menghambat perkembangan ekonomi digital. BI perlu menyeimbangkan antara memenuhi kebutuhan uang tunai saat Lebaran dengan mendorong adopsi pembayaran digital yang lebih efisien dan transparan.
Verdict: Waspada Efek Samping
Sebagai analis, saya melihat program SERAMBI 2026 sebagai langkah yang perlu diambil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, BI harus sangat berhati-hati dalam mengelola dampak inflasi yang mungkin timbul. Pengawasan ketat terhadap distribusi uang tunai dan koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga adalah kunci. Lebih dari itu, BI perlu mempercepat edukasi dan infrastruktur untuk pembayaran digital. Jangan sampai euforia Lebaran justru menjadi awal dari masalah ekonomi yang lebih besar.




