KreAsik – 16 Agustus 2026 | Bank investasi ternama, Goldman Sachs, memperkirakan bahwa Jepang memiliki cadangan devisa sekitar $1 triliun yang dapat digunakan untuk melakukan intervensi mata uang lagi. Ini berarti bahwa Jepang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi nilai yen dan menghindari fluktuasi besar pada mata uangnya.
Perbedaan antara suku bunga Jepang dan Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi nilai yen. Suku bunga obligasi pemerintah Jepang relatif rendah dibandingkan dengan suku bunga obligasi pemerintah Amerika Serikat, sehingga membuat investor lebih tertarik untuk membeli obligasi Amerika Serikat.
Goldman Sachs juga memperkirakan bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Jika hal ini tidak terjadi, maka nilai yen dapat melemah lagi. Namun, jika data inflasi atau pekerjaan di Amerika Serikat tidak sesuai dengan ekspektasi, maka tekanan pada yen dapat berkurang dan membuat intervensi mata uang lagi menjadi lebih mungkin.
Baca Juga:
Intervensi mata uang yang dilakukan Jepang pada bulan Juli lalu merupakan salah satu contoh upaya untuk mempertahankan nilai yen. Pada saat itu, Jepang dan Amerika Serikat bekerja sama untuk melakukan intervensi mata uang yang berhasil meningkatkan nilai yen untuk sementara waktu.
Dalam beberapa bulan terakhir, nilai yen telah melemah lagi dan kembali ke level terendah dalam 40 tahun terakhir. Namun, dengan cadangan devisa sekitar $1 triliun, Jepang memiliki kemampuan untuk melakukan intervensi mata uang lagi jika diperlukan.
Kesimpulan dari situasi ini adalah bahwa Jepang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi nilai yen dan menghindari fluktuasi besar pada mata uangnya. Namun, keputusan untuk melakukan intervensi mata uang lagi akan tergantung pada berbagai faktor, termasuk suku bunga, inflasi, dan situasi ekonomi global.




