Tom Lee: Pasar Kripto & Saham Rawan Gejolak 2026

Ines Feree

Januari 22, 2026

3
Min Read

Kreasik — Strategis Fundstrat, Tom Lee, memprediksi tahun 2026 akan menjadi periode penuh tantangan bagi pasar saham dan aset kripto. Ia mewanti-wanti potensi penurunan signifikan di pertengahan tahun, yang dipicu oleh kombinasi kompleks antara ketegangan geopolitik, kebijakan tarif baru, dan ketidakpastian politik global yang dapat menekan sentimen investor secara luas.

Dalam podcast "The Master Investor" bersama Wilfred Frost, Lee menjelaskan bahwa dinamika pasar di tahun 2026 berpotensi menyerupai tahun 2025. Meskipun tren jangka panjang masih didukung oleh narasi besar seperti kecerdasan buatan (AI) dan teknologi blockchain, risiko jangka pendek dapat menghambat reli yang stabil sejak awal tahun.

Tom Lee: Pasar Kripto & Saham Rawan Gejolak 2026
Gambar Istimewa : cryptoharian.com

Untuk pasar saham Amerika Serikat, Lee memperkirakan koreksi sebesar 15 hingga 20 persen masih sangat mungkin terjadi. Namun, ia tetap optimis terhadap potensi penguatan di akhir tahun, dengan asumsi bahwa kondisi moneter akan menjadi lebih longgar. Lee menyoroti ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang lebih dovish, serta dampak positif dari berakhirnya fase pengetatan likuiditas yang selama ini menahan selera risiko investor.

Arah kebijakan Gedung Putih, terutama terkait tarif dan prioritas industri, juga akan memainkan peran penting dalam menentukan sektor mana yang akan unggul. Dalam konteks ini, Lee melihat sektor energi dan bahan baku berpotensi diuntungkan jika kebijakan pemerintah mendorong onshoring, belanja infrastruktur, atau perubahan signifikan dalam rantai pasok global.

Di ranah kripto, Lee tetap yakin bahwa Bitcoin memiliki potensi untuk mencetak rekor harga baru pada tahun 2026, meskipun ia tidak mengulangi target ambisiusnya di angka US$250.000. Menurutnya, pencapaian rekor baru akan menjadi sinyal penting bahwa pasar telah sepenuhnya menyerap dampak dari "crash" 10 Oktober yang lalu, yang ia yakini masih membebani likuiditas dan kepercayaan investor. Lee menggambarkan market maker kripto sebagai "bank sentral" dalam ekosistem kripto, yang ketika mereka terguncang, efeknya dapat merembet dengan cepat ke seluruh pasar.

Lee juga menyinggung alasan mengapa kinerja aset kripto belakangan ini tertinggal dibandingkan emas. Ia berpendapat bahwa siklus deleveraging yang berulang dapat merusak likuiditas dan memperlambat pemulihan, terutama selama adopsi arus utama dan partisipasi institusional belum cukup dalam untuk menstabilkan pasar saat terjadi guncangan.

Beberapa analis lain sepakat dengan sebagian pandangan Lee. Benjamin Cowen dari Into The Cryptoverse, misalnya, menilai bahwa logam mulia mengungguli kripto pada tahun 2025 dan berpotensi kembali lebih kuat pada tahun 2026. Namun, Cowen juga memperkirakan logam mulia akan mengalami koreksi besar di akhir tahun.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi atau trading. Investasi dalam aset kripto memiliki risiko tinggi. Lakukan riset mendalam sebelum berinvestasi. Kreasik.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan Anda.

Tinggalkan komentar

Related Post