KreAsik – 03 Juli 2026 | Bitcoin (BTC) sempat menguat setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi yang masih membandel. Namun, pergerakan kripto paling jumbo ini masih berada di bawah bayang-bayang tekanan dari pasar obligasi. Tekanan tersebut datang dari penguatan dolar Amerika, arus keluar ETF, dan kuatnya minat investor terhadap saham teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Kenaikan harga Bitcoin pada hari Rabu (2/7/2026) ini belum sepenuhnya mengubah pandangan pelaku pasar, meski ada pernyataan Ketua The Fed. Aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin masih menghadapi tantangan, apalagi ketika instrumen pendapatan tetap menawarkan hasil lebih tinggi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor lima tahun naik ke 4,22 persen. Kenaikan yield tersebut menunjukkan investor meminta imbal hasil lebih besar untuk memegang surat utang pemerintah AS. Namun, kontrak berjangka obligasi mengindikasikan peluang sekitar 64 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada September.
Baca Juga:
Pernyataan Ketua The Fed dan tekanan suku bunga masih menjadi hambatan utama bagi Bitcoin. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi ikut mengubah arah minat investor, sehingga aset berisiko dan aset alternatif cenderung menghadapi tekanan tambahan. Harga emas bahkan tercatat turun sekitar 12 persen dalam dua bulan terakhir meski inflasi belum sepenuhnya mereda.
Reli AI masih tarik arus modal, namun mulai muncul tanda pelemahan pada sebagian saham chip. Jika momentum AI mulai melambat, sebagian analis menilai arus modal berpotensi kembali mencari alternatif. Dalam skenario tersebut, Bitcoin dan emas dapat kembali masuk radar investor, apalagi dengan pernyataan Ketua The Fed.
ETF Bitcoin masih catat arus keluar, memperkuat tekanan jual dan membuat sentimen positif sulit mendorong harga secara signifikan. Saat ini, Bitcoin masih diperdagangkan sekitar 53 persen di bawah rekor harga tertingginya. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar mulai menguji kembali kekuatan area support di sekitar US$60.000.
Dampak pernyataan Ketua The Fed terhadap Bitcoin akhirnya harus dibaca bersama faktor lain. Selama ETF masih mengalami arus keluar dan dolar AS tetap kuat, pemulihan harga berpotensi berjalan terbatas. Oleh karena itu, perlu diwaspadai bahwa tekanan suku bunga dan dolar AS masih menjadi hambatan utama bagi Bitcoin.
Selain itu, perlu diingat bahwa strategi yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy baru meningkatkan cadangan kasnya. Langkah itu disebut mampu menopang pembayaran dividen sekitar 17 bulan ke depan. Namun, saham preferen STRC masih diperdagangkan jauh di bawah target US$100 yang dibutuhkan untuk menerbitkan saham baru.
Jadi, perlu diingat bahwa pernyataan Ketua The Fed memang sempat memberi dorongan positif bagi Bitcoin. Namun, kombinasi ekspektasi kenaikan suku bunga, yield obligasi AS yang naik, penguatan dolar AS, arus keluar ETF, dan kuatnya sektor AI masih menjadi hambatan utama.
Keuangan, Kripto, Tekno, Uncategorized




