Kreasik — Indikator teknikal Bitcoin, Spent Output Profit Ratio (SOPR), mendekati zona kritis 1.02, memicu kewaspadaan di kalangan trader. Level ini secara historis menjadi pemicu koreksi harga signifikan, seperti yang terjadi pada Maret 2024 dan Februari 2025, di mana koreksi 10-20 persen terjadi hanya dalam dua minggu.
SOPR sendiri mengukur profitabilitas koin yang dipindahkan di jaringan Bitcoin. Nilai di atas 1.0 mengindikasikan bahwa rata-rata pemegang Bitcoin menjual aset mereka dengan keuntungan. Ketika SOPR mendekati 1.02, ini seringkali menjadi sinyal aksi ambil untung besar-besaran, yang berpotensi memicu koreksi harga jangka pendek.

Selain SOPR, metrik on-chain seperti NVT dan NVM ratio juga menunjukkan penurunan, mengindikasikan bahwa kenaikan harga Bitcoin saat ini mungkin tidak sepenuhnya didukung oleh pertumbuhan utilitas jaringan. Hal ini dapat melemahkan fondasi fundamental kenaikan harga, meskipun sentimen pasar secara umum masih positif.
Di sisi lain, Funding Rate berbobot Open Interest yang terus positif sejak awal Juli menunjukkan bahwa trader derivatif cenderung mengambil posisi long (bullish). Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya shakeout jika harga Bitcoin tiba-tiba terkoreksi.
Menariknya, meskipun potensi tekanan jual meningkat, net outflow Bitcoin dari bursa tetap tinggi, dengan lebih dari 31.000 BTC ditarik dalam beberapa hari terakhir. Ini mengindikasikan adanya akumulasi jangka panjang, bukan distribusi untuk ambil untung, menunjukkan bahwa pelaku pasar besar masih enggan melepas aset mereka.
Pasar saat ini berada di persimpangan jalan. Jika tren outflow Bitcoin dari bursa terus berlanjut dan funding rate tetap terkendali, koreksi besar mungkin dapat dihindari. Namun, jika SOPR menembus 1.02 dan funding rate melonjak, volatilitas tajam dapat terjadi sewaktu-waktu. Para investor disarankan untuk tetap waspada dan mempertimbangkan risiko yang ada sebelum mengambil keputusan investasi.
Tinggalkan komentar