Bhutan Lego Bitcoin, Panik atau Strategi?

Ines Feree

Februari 13, 2026

2
Min Read

Kreasik — Bhutan, negara yang dikenal dengan indeks kebahagiaan, kini menjadi sorotan karena manuvernya di pasar Bitcoin. Data menunjukkan kepemilikan Bitcoin mereka menyusut hampir 60% sejak Oktober. Apakah ini sinyal bahaya atau sekadar penyesuaian portofolio?

Logika di Balik Angka 38%

Bhutan Lego Bitcoin, Panik atau Strategi?
Gambar Istimewa : cryptoharian.com

Bhutan kini memegang sekitar 5.600 BTC, senilai sekitar $385 juta. Arkham Intelligence mencatat transfer 100 BTC ke QCP, memicu spekulasi penjualan. Penurunan kepemilikan dari 13.295 BTC mengindikasikan strategi yang lebih dalam.

Ancaman Dominasi "Bearish"

Sentimen pasar kripto sedang tidak baik-baik saja. Standard Chartered memangkas target harga Bitcoin, kini memprediksi potensi penurunan ke $50.000. Analis Glassnode melihat potensi kelemahan struktural yang bisa menyeret Bitcoin ke $55.000.

ETF Jadi Biang Kerok?

Kepala riset aset digital Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, menyalahkan arus keluar ETF. Kepemilikan Bitcoin ETF telah berkurang hampir 100.000 BTC sejak Oktober. Investor ETF kini merugi dengan harga masuk mendekati $90.000.

Bukan Cuma Bitcoin yang Kena Getahnya

Standard Chartered juga memangkas target Ethereum (ETH) akhir 2026 menjadi $4.000. Mereka bahkan membuka kemungkinan ETH turun ke $1.400 sebelum pulih. Pasar kripto sedang menghadapi tekanan ganda dari sentimen negatif dan faktor makro.

Strategi Diversifikasi atau Panik Jual?

Pertanyaannya, apakah Bhutan panik menjual aset berisiko atau melakukan diversifikasi strategis? Transfer Bitcoin ke alamat yang tidak jelas menunjukkan kompleksitas strategi mereka. Mungkin saja mereka sedang melakukan lindung nilai (hedging) atau mencari peluang arbitrase.

Verdict: Lebih dari Sekadar "Bear Market"

Penjualan Bitcoin oleh Bhutan bukan sekadar respons terhadap "bear market". Ini adalah indikasi bahwa bahkan negara pun bisa goyah dalam menghadapi volatilitas kripto. Pemerintah Bhutan mungkin sedang menyesuaikan strategi investasi mereka untuk mengelola risiko dan memaksimalkan keuntungan di tengah ketidakpastian global. Investor ritel perlu berhati-hati dan mempertimbangkan risiko ini sebelum membuat keputusan investasi. Perlu diingat bahwa aset digital bisa jadi alat investasi, tapi juga bisa jadi bumerang jika tidak dikelola dengan bijak.

Tinggalkan komentar

Related Post