KreAsik – 04 Juni 2026 | Airdrop kripto, yang dulunya menjadi cara populer untuk membangun komunitas dan memberikan penghargaan kepada pengguna awal, kini tampaknya sudah tidak efektif lagi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Delphi Digital, sekitar 94% pengguna melepaskan token yang mereka terima dari airdrop dalam waktu 90 hari.
Penelitian ini melibatkan 3,7 juta dompet dan dilakukan selama lima tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa airdrop kini lebih cenderung menghasilkan penjual daripada pemegang token yang setia.
Delphi Digital juga menemukan bahwa tingkat penjualan token meningkat seiring waktu, bukan menurun. Pada hari ke-90, tingkat penjualan token 4-11% lebih tinggi dibandingkan dengan hari ke-30.
Baca Juga:
Penelitian ini juga menemukan bahwa biaya untuk membuat dompet palsu (sybil) semakin rendah, sehingga membuat airdrop menjadi kurang efektif. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa token yang diterima dari airdrop seringkali dijual dengan cepat, sehingga tidak ada nilai yang signifikan bagi proyek.
Beberapa contoh token yang dijual dengan cepat setelah airdrop adalah Uniswap (UNI), Arbitrum (ARB), dan Jupiter (JUP). Penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa proyek, seperti Hyperliquid (HYPE) dan Jito (JTO), berhasil menghindari penjualan token dengan cepat karena memiliki strategi yang tepat.
Delphi Digital menyimpulkan bahwa airdrop kripto sudah tidak efektif lagi dan bahwa proyek harus mencari cara lain untuk membangun komunitas dan memberikan penghargaan kepada pengguna awal. Mereka juga menyarankan bahwa tokenomics harus didesain untuk menghasilkan performa yang baik, bukan hanya didasarkan pada airdrop.
Dalam beberapa tahun terakhir, airdrop kripto telah menjadi semakin populer sebagai cara untuk membangun komunitas dan memberikan penghargaan kepada pengguna awal. Namun, dengan meningkatnya biaya untuk membuat dompet palsu dan semakin rendahnya nilai token yang diterima, airdrop kripto kini tampaknya sudah tidak efektif lagi.




