OJK Awasi Ketat, Asuransi Nasional Berbenah Diri

Riya Sharma

Juli 11, 2025

2
Min Read
OJK Awasi Ketat, Asuransi Nasional Berbenah Diri

Kreasik — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperketat pengawasan terhadap industri asuransi nasional. Terbaru, enam perusahaan asuransi dan reasuransi masuk dalam radar pengawasan khusus karena dinilai rentan dan membutuhkan penyehatan segera.

Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, menegaskan komitmennya untuk mendorong penyelesaian masalah di lembaga jasa keuangan melalui pengawasan intensif. Hal ini diungkapkan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juni 2025.

OJK Awasi Ketat, Asuransi Nasional Berbenah Diri
Gambar Istimewa : infobanknews.com

Meskipun OJK belum merilis daftar nama perusahaan yang dimaksud, namun sinyalemen mengarah pada perusahaan yang memiliki ekuitas minus atau kondisi keuangan yang belum stabil. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Nasional Reasuransi (NasRe), perusahaan reasuransi milik negara di bawah naungan Indonesia Financial Holding (IFG).

NasRe diketahui memiliki solvabilitas minus Rp2,84 triliun dan menderita kerugian hingga Rp1,4 triliun pada tahun lalu. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk segera melakukan restrukturisasi sesuai dengan arahan OJK.

Toto Pranoto, Komisaris Utama Nasional Reasuransi Nasional Indonesia, membenarkan kondisi tersebut dan menyatakan bahwa perusahaan tengah berupaya melakukan penyehatan, termasuk opsi penambahan modal dengan dukungan dari IFG sebagai pemegang saham utama.

Fankar Umran, Direktur Utama Askrindo, pemegang 99,99% saham NasRe, menambahkan bahwa OJK telah meminta suntikan modal untuk menutupi defisit ekuitas NasRe yang mencapai Rp2 triliun. Namun, Fankar menekankan bahwa Askrindo tidak dapat serta merta memenuhi permintaan tersebut mengingat modal Askrindo adalah modal negara dan memerlukan persetujuan dari pihak berwenang.

Menurut Fankar, prospek bisnis reasuransi di Indonesia sebenarnya sangat menjanjikan. Koreksi kinerja NasRe disebabkan oleh langkah konservatif perusahaan untuk memperkuat pencadangan guna mengantisipasi klaim di masa depan. Meskipun demikian, NasRe telah menunjukkan perbaikan kinerja, bahkan mencatatkan laba Rp200 miliar pada kuartal pertama 2025.

“Persoalan utamanya adalah kekurangan modal. Untuk bisa hidup dan mendapatkan bisnis kan harus sehat, klien mau kasih bisnis pun meminta sehat dulu dong. Sementara kalau mau sehat harus injek modal,” pungkas Fankar.

Tinggalkan komentar

Related Post