Kreasik — Askrindo, dalam perayaan HUT ke-55, menjanjikan jaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp114 triliun di tahun 2025. Target ambisius ini diharapkan menyerap 3,7 juta tenaga kerja. Namun, apakah optimisme ini sejalan dengan realitas di lapangan?
Euforia HUT: Janji Manis atau Strategi Bisnis?
Askrindo mengklaim telah menjamin KUR senilai Rp1.125,9 triliun sejak 2007. Klaim ini menyasar 36,3 juta debitur UMKM. Pertanyaannya, seberapa efektif penyaluran KUR ini dalam meningkatkan daya saing UMKM?
Peningkatan Hasil Underwriting Netto sebesar Rp1,28 triliun (unaudited) di tahun 2025 menjadi amunisi. Premi bruto juga tercatat sebesar Rp4,44 triliun (unaudited). Angka-angka ini menunjukkan fundamental bisnis yang kuat, menurut Askrindo.
Also Read
Digitalisasi Askrindo: Efisiensi atau Sekadar Kosmetik?
Peluncuran Fintracs dan Ask-Scoring menandai upaya transformasi digital Askrindo. Fintracs diklaim menyederhanakan transaksi keuangan. Ask-Scoring menjanjikan proses underwriting yang lebih cepat dan objektif.
Namun, implementasi teknologi ini harus diimbangi dengan peningkatan literasi digital UMKM. Jika tidak, digitalisasi hanya akan menguntungkan Askrindo, bukan UMKM. Integrasi sistem memang penting, tapi jangan sampai mengorbankan fleksibilitas.
KUR: Solusi Instan atau Jebakan Utang?
KUR seharusnya menjadi solusi pembiayaan bagi UMKM. Namun, realitasnya seringkali berbeda. Banyak UMKM terjerat utang karena kurangnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan.
Pemerintah dan Askrindo perlu memastikan KUR disalurkan kepada UMKM yang benar-benar produktif. Bukan sekadar mengejar target penyaluran. Pendampingan dan pelatihan harus menjadi bagian integral dari program KUR.
Verdict:
Askrindo memang menunjukkan kinerja yang solid. Namun, janji KUR Rp114 triliun harus diwaspadai. Fokusnya bukan hanya pada penyaluran, tapi juga pada kualitas dan dampak KUR terhadap UMKM. Digitalisasi Askrindo perlu diimbangi dengan peningkatan literasi digital UMKM. Jika tidak, KUR hanya akan menjadi beban baru bagi UMKM. Askrindo perlu mengukur efektivitas KUR secara berkala, bukan hanya mengumumkan angka-angka yang terlihat indah di atas kertas.