Musim Hujan 2026 Tertunda: El Niño Kuat Goyang Tanam

Author Image

Terbit

14 Agustus 2026, 02:07 WIB

Musim Hujan 2026 Tertunda: El Niño Kuat Goyang Tanam
Musim Hujan 2026 Tertunda: El Niño Kuat Goyang Tanam

KreAsik – 14 Agustus 2026 | Indonesia kini berada di ambang perubahan iklim yang signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa musim hujan 2026 tidak akan datang secara serentak di seluruh kepulauan. Sebaliknya, peralihan dari kemarau ke musim hujan akan terjadi secara bertahap, dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, kondisi geografis, serta fenomena global seperti El Niño.

Dalam pembaruan prediksi musim kemarau Juni 2026, BMKG mengungkapkan bahwa puncak musim kemarau masih diperkirakan berlangsung pada Agustus 2026. Dari total 756 Zona Musim (ZOM), sebanyak 369 ZOM atau 48,84% diproyeksikan mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut, sementara 169 ZOM (25,41%) diperkirakan mencapai puncak pada September. Artinya, banyak wilayah baru akan memasuki masa transisi setelah Agustus, dan hujan sesekali tidak selalu menandakan berakhirnya musim kemarau.

Periode Puncak Kemarau Jumlah ZOM Persentase
Agustus 2026 369 48,84%
September 2026 169 25,41%
Lainnya 218 25,75%

Selain itu, BMKG mencatat bahwa 482 ZOM atau 56,18% wilayah negara diprediksi mengalami sifat kemarau di bawah normal, menandakan potensi kekeringan yang lebih intens. Pengaruh El Niño kuat, dengan indeks Nino 3.4 mencapai 1,56 sejak akhir Juni 2026, menjadi faktor utama yang memperparah kondisi kering.

Para ahli meteorologi menegaskan bahwa El Niño kuat tidak otomatis berarti seluruh Indonesia akan mengalami dampak serupa. Namun, kombinasi El Niño dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) diproyeksikan menunda kedatangan musim hujan 2026 hingga Januari 2027. Kondisi ini akan memperpanjang periode kemarau, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sumatra dan Papua Selatan.

Petani di Jawa Tengah merasakan dampak langsung. Selama tiga bulan berturut‑turut tanpa hujan, mereka beralih menanam tanaman palawija yang lebih toleran terhadap kekeringan, seperti jagung, kedelai, kacang hijau, tembakau, dan padi gogo. Di Kabupaten Kendal, petani Makhruf mengandalkan sumur pribadi untuk irigasi, sementara di Demak petani Suradi membeli air truk tangki karena sungai dan saluran irigasi mengering. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menegaskan pentingnya perbaikan 334 proyek irigasi untuk mengurangi ketergantungan pada curah hujan.

Pada 14 Agustus 2026, BMKG mengeluarkan peringatan khusus tentang potensi hujan lebat dan angin kencang di beberapa wilayah, meskipun secara umum negara masih berada dalam fase kemarau. Hujan dengan intensitas hingga 86 mm tercatat di Papua, sementara wilayah Kalimantan Utara dan Papua Pegunungan menerima 22‑23 mm dalam satu hari. Gangguan atmosfer seperti Gelombang Kelvin dan Madden‑Julian Oscillation (MJO) menjadi penyebab terjadinya curah hujan lokal meski kondisi nasional kering.

Kekeringan yang berkelanjutan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga akhir Juli 2026, ribuan hotspot telah terdeteksi, dengan puncak risiko diprediksi terjadi antara Agustus dan September 2026, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Kombinasi El Niño kuat, IOD positif, dan suhu permukaan laut yang meningkat memperparah situasi, mengingat sejarah 1997‑1998 di mana kedua fenomena bersamaan menyebabkan krisis air dan kebakaran meluas.

Secara keseluruhan, musim hujan 2026 diperkirakan akan mengalami penundaan signifikan, memaksa pemerintah, sektor pertanian, dan masyarakat luas untuk menyiapkan strategi mitigasi. Penguatan jaringan irigasi, diversifikasi tanaman, serta kesiapsiagaan terhadap bencana kebakaran menjadi kunci untuk mengurangi dampak jangka panjang.

Related Post

Terbaru