KreAsik – 13 Agustus 2026 | Konferensi Rare Evo 2026 yang berlangsung selama dua hari di Las Vegas menjadi panggung utama bagi pelaku industri kripto dan web3 untuk meninjau tren terbaru. Acara ini menyoroti dinamika pasar yang masih berada dalam fase “crypto winter”, dengan sentimen investor yang tetap tertahan dan kebijakan regulasi yang belum pasti.
Di antara topik utama, perdebatan mengenai Clarity Act mendominasi diskusi. Beberapa peserta mengemukakan bahwa meski Undang-Undang Clarity berpotensi disahkan sebelum pemilihan tengah tahun, proses legislasi kini semakin rumit. Cody Carbone dari The Digital Chamber menekankan kekecewaan terbesar: “Undang-Undang Clarity seharusnya sudah lolos setahun lalu.” Sementara Dewan Perwakilan Amerika Serikat memang pernah menyetujui versi awal tahun lalu, rancangan tersebut kini terhenti di Senat, menyebabkan aliran modal beralih ke yurisdiksi seperti Kepulauan Cayman dan Kepulauan Virgin Britania.
Jake Salerno dari 0G Labs menambahkan bahwa para pengguna lebih memerlukan infrastruktur yang dapat diverifikasi secara teknis, bukan sekadar kepastian kebijakan. Ia berpendapat bahwa regulasi tidak lagi menjadi faktor utama, melainkan kemampuan jaringan untuk memberikan jaminan keamanan dan transparansi.
Baca Juga:
Salah satu argumen yang muncul adalah manfaat ekonomi dari Clarity Act, yaitu kemampuan menyalurkan modal menganggur ke dalam vault yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan sistem perbankan tradisional. Meskipun legislasi masih terhambat dan harga kripto tetap lemah, sejumlah proyek kripto tetap aktif mengembangkan inovasi.
Stabilcoin menjadi sorotan sebagai area pertumbuhan yang signifikan. Pembayaran berbasis agen (agentic payments) juga menjadi topik hangat karena pertumbuhan pesatnya. Sam Kazemain dari Frax menyatakan, “Harga mungkin tidak bullish, namun banyak kesepakatan bisnis yang menggerakkan ekosistem sehingga tidak terasa terhubung dengan harga pasar.” Sam Green dari Cambrian Network menegaskan keandalan stabilcoin dengan menyebutkan tingkat keandalan 99,9999% yang hampir setara standar militer.
Mengacu pada peningkatan lalu lintas internet yang didorong oleh agen AI, kebutuhan pembayaran untuk layanan berbasis AI diproyeksikan meningkat secara eksponensial. Para ahli bersepakat bahwa fase awal adopsi masih berlangsung dan potensi pasar belum sepenuhnya terealisasi.
Tokenisasi aset juga tetap menjadi tren kuat. Porter Stowell dari W3.io mengakui adopsi blockchain masih terbatas, namun teknologi ini telah membantu modernisasi donasi global dan manajemen kekayaan melalui tokenisasi. Ia menggambarkan era ini sebagai “golden age of entrepreneurship” di mana alat AI mempercepat penciptaan dan peluncuran produk.
Milton Ault dari Ault Blockchain menyoroti besarnya peluang tokenisasi, dengan perkiraan nilai aset yang dapat di-tokenisasi mencapai US$130 triliun. Menurutnya, perak akan menjadi aset pertama yang di-tokenisasi, diikuti oleh berbagai kelas aset riil lainnya yang nantinya akan tercatat di blockchain.
Pasar prediksi, meski tidak secara langsung terkait dengan kripto, menarik minat investor yang dulunya fokus pada altcoin. Brian Quintenz, mantan komisaris CFTC dan kini anggota dewan KalshiFx, menjelaskan bahwa pasar prediksi memungkinkan individu mendapatkan eksposur terhadap risiko peristiwa, menyerupai pasar derivatif ketimbang sekadar taruhan.
Isu perlindungan data juga muncul sebagai topik penting, terutama menjelang kontroversi ColdCard. Joe Suzuki dari CertiK menekankan pentingnya implementasi keamanan berkelanjutan, dengan program agen yang dapat mengotomatiskan proses tersebut. Oliver Maroney dari OpenSea menambahkan bahwa keamanan menjadi komponen krusial di seluruh ruang web3, terutama dalam gaming dan NFT.
Secara keseluruhan, Rare Evo Conference 2026 menegaskan bahwa meskipun regulasi masih belum jelas, ekosistem kripto terus beradaptasi melalui inovasi teknis, tokenisasi aset, dan munculnya Agentic Economy yang menjanjikan efisiensi baru dalam pembayaran digital.
Dengan tekanan regulasi yang terus berkembang dan dinamika pasar yang berubah, pelaku industri diharapkan dapat memanfaatkan momentum teknologi AI dan tokenisasi untuk memperkuat fondasi ekonomi digital di masa depan.




